Menanamkan Akhlak Mulia Pada Anak (Bagian 1) - IMedia9 - Moslem

Breaking

Sunday, April 29, 2018

Menanamkan Akhlak Mulia Pada Anak (Bagian 1)



Berikut adalah Materi BIAS Tematik: Menanamkan Akhlak Mulia Pada Anak yang dibawakan oleh Ustadz Abdullah Zaen MA:

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka Ta'āla. Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kita akan membahas fiqih tentang pendidikan anak: "Bagaimana cara menanamkan akhlak yang mulia kepada anak".

Sekarang, sesuatu yang memprihatinkan di masyarakat adalah melihat prilaku sebagian anak-anak kita. Kita memperhatikan banyaknya prilaku yang tidak baik dari sebagian anak-anak kepada orang tuanya atau kepada teman-temannya atau kepada yang lainnya. Tidak sedikit kita perhatikan hal tersebut.

Sehingga, kadang-kadang ada orang tua, manakala dia melepaskan anaknya pergi ke sekolah atau pergi kemana saja timbul rasa was-was di dalam hatinya,

"Jangan-jangan nanti anak saya nanti terpengaruh dengan temannya dan jangan-jangan..."
Selalu itu yang timbul di dalam perasaan hatinya. Karena memang kenyataannya di luar kita perhatikan banyak sekali anak yang prilakunya tidak baik.
Bahkan tidak jarang kita melihat ada anak yang berani membentak orang tuanya, anak tidak menurut kepada orang tuanya.

Bahkan juga pernah kita dengar berita ada anak berani membunuh orang tuanya.

Darimana sumber akhlak yang buruk tersebut?

Lain halnya seandainya kita melihat ada seorang anak yang baik perilakunya, lembut tutur katanya kemudian juga taat beribadah, pemikirannya terdidik. Ketika kita melihat anak seperti ini kita akan kagum dan bahkan mungkin di zaman kita ini kalau ada anak yang seperti itu, bisa jadi itu merupakan manusia langka.

akhlak-1

Ketika kita dapatkan ada anak yang tutur katanya baik, sopan, taat beribadah kita akan senang bila bertemu dengan dia.
⇒ Siapa yang tidak senang melihat anak yang tutur katanya baik?
⇒ Siapa yang tidak senang melihat anak yang sopan di dalam berperilaku?
⇒ Siapa yang tidak senang melihat anak yang taat beribadah, shalāt berjama'ah di masjid?
Tapi coba lihat kondisi masjid-masjid kaum muslimin. Kebanyakan yang shalāt adalah orang-orang yang sudah lanjut usia.

Lalu di mana anak-anak kaum muslimin?

Mereka sibuk, bila tidak di depan televisi, mereka berada di warnet main game atau PS. Kalau sore-sore sibuk di lapangan bola. Bukan tidak boleh main bola, tapi kadang-kadang sampai nabrak waktu shalāt maghrib.

Yang namanya pengajian-pengajian ramai didatangi kalau hanya setahun sekali. Pengajian yang rutin jarang didatangi.

Itulah kenyataan yang ada.

Makanya, kalau kita melihat ada anak yang prilakunya baik maka kita senang. Bila bertemu dengan mereka ibarat menemukan mutiara.

Apakah cukup dengan senang saja?

Tentunya tidak berhenti sampai disitu

Ketika kita melihat ada anak yang berprilaku baik, sopan dalam bertutur dan berkata, kita berusaha untuk menebak, kenapa anak ini bisa seperti ini?

Yang namanya anak, lahir ke dunia tidak tiba-tiba ada, itu tidak mungkin. Pasti anak ini lahir dari orang tua (bapak dan ibu) kalau misalnya kita melihat ada anak yang akhlaknya mulia berarti kita bisa menebak, kemungkinan besar anak ini dididik dengan baik oleh orang tuanya.
Mengapa demikian?

Karena prilaku anak itu sangat terpengaruh dari pendidikan yang dialami oleh dia. Makanya bila ada anak baik biasanya pendidikan dari orang tuanya juga baik, ibarat bibit unggul.
Karena apa?

Karena induknya baik.

Maka dari sinilah kita mengetahui pentingnya tugas orang tua.
Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.


No comments:

Post a Comment