Fenomena Fitnah Terhadap Ulama Dari Masa Ke Masa - IMedia9 - Moslem

Breaking

Sunday, May 20, 2018

Fenomena Fitnah Terhadap Ulama Dari Masa Ke Masa



Ulama berasal dari bahasa arab yang secara istilah diartikan sebagai pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Sementara makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti. Sehingga pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”.
Arti kata ulama ketika diserap ke dalam Bahasa Indonesia memang berubah dan lebih menjurus maknanya kepada orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.

Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah seorang muslim yang menguasai ilmu agama Islam, memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan ''As-Sunnah'' dan mampu menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.

Menjadi seorang ulama nyatanya bukanlah jalan yang mudah. Ada begitu banyak FITNAH (cobaan/ujian/bencana) yang harus dialami oleh mereka demi mempertahankan kebenaran. Tidak jarang para ulama harus berhadapan dengan kematian. Berikut ini adalah beberapa fitnah yang dialami oleh ulama besar saat menyebarkan syariat Islam.

IMAM HANAFI 

Imam Hanafi mendapat FITNAH berupa tawaran jabatan tinggi, uang yang berlimpah sampai pada penjara, siksaan dan racun. Pada awalnya Imam Hanafi mendapat tawaran jabatan tersebut dengan ancaman jika menolak akan dihukum dengan pukulan 100 kali. Ancaman ini jelas menunjukan jika Imam Hanafi menerima jabatan tersebut, dia harus mengikuti arah kebijakan pemerintah saat itu. Imam Hanafi menolak dengan tegas semua tawaran itu yang mengakibatkan dia dipenjara, dipukul dan disiksa beberapa lama. Puncaknya terjadi saat Imam Hanafi dipaksa untuk meminum racun oleh pemerintah dan dibiarkan mati dalam penjara.

IMAM MALIKI


Imam Maliki mendapat FITNAH berupa cambukan sebanyak 30 kali (ada riwayat lain yang menyebutkan 70 kali) dikarenakan menyampaikan hadits yang berbunyi, “Tidak ada thalak bagi orang yang dipaksa.”. Hal ini dikarenakan pengangkatan Ja’far bin Sulaiman, Gubernur Madinah, dilakukan melalui jalan paksaan. Sehingga status Ja’far bin Sulaiman sebagai gubernur seharusnya tidak sah karena menepuh jalan yang tidak seharusnya. 

IMAM SYAFI'IE

Imam Syafi'i mendapat FITNAH berupa tuduhan palsu oleh Gubernur as-Saud yaitu Gubernur Najran kononnya Imam Syafi'i sedang menghasut rakyat untuk memusuhi dan menjatuhi pemerintah Bani Abbasiyah yang diperintah oleh Khalifah Harun ar-Rashid. Akibat dari fitnah tersebut Imam Syafi'i dan anak muridnya telah ditangkap, tangan dan kaki mereka dirantai. Mereka juga dipaksa berjalan kaki dari Najran ke Kota Kufah.

Namun dengan izin Allah Imam Syafi'i terlepas dari hukuman oleh Khalifah dan orang yang memfitnah mendapat hukuman yang setimpal. Diantara ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Imam Syafi'i, yang membuat hati dan jiwa raga Khalifah Harun ar-Rashid terpesona adalah Firman ALLAH swt dari Surah al-Hujurat, ayat 6 yang berarti:

"Hai orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu"

IMAM HAMBALI

Imam Hambali mendapat FITNAH berupa penjara, dan pukulan bertubi-tubi. Hal ini dikarenakan Imam Hambali adalah satu-satunya ulama yang kala itu berani mengatakan jika Al-Quran adalah Kalamullah (Firman Allah) dan bukan Makhluk Allah yang bisa digantikan.

Ucapan Imam Hambali  dianggap tidak sesuai dan bertentangan dengan pemerintah yang dipimpin oleh Al Ma'mun. Berbeda pendapat dengan pengusasa berarti menentang negara. Menentang negara berarti mengganggu stabilitas. Oleh karena itu Imam Hambali perlu diamankan, alias dipenjarakan.

No comments:

Post a Comment